Langsung ke konten utama

Review Manhwa: Gorae Byul



Judul: Gorae Byul – The Gyonseong Mermaid
Penulis: Na Yoonhee
Genre: Drama, Historical, Romance, Tragedy
Jumlah Chapter: 33 (ongoing)
Penerbit: Webtoon Naver
Tahun Rilis: 2019

Sinopsis
Manhwa ini berlatar waktu masa Joseon (dinasti Korea) saat di bawah kependudukan Jepang pada tahun 1926, menceritakan kisah Soo A, seorang gadis berusia 17 tahun. Ia merupakan pelayan yang tak bisa baca-tulis yang bekerja di rumah bangsawan Korea yang merupakan kolaborator pemerintah Jepang. Suatu hari, ia menemukan seorang pria yang tak sadarkan diri di pinggir pantai. Setelah menyelamatkan nyawa pria tersebut, diketahuilah bahwa ia merupakan seorang aktivis kemerdekaan Korea yang bekerja secara sembunyi-bunyi yang bernama Eui Hyeon.

Soo A yang polos merawatnya sampai sembuh di sebuah gua di tepi pantai. Eui Hyeon menceritakan padanya kisah puti duyung yang menyelamatkan seorang pangeran yang tenggelam. Kisah tersebut sangat berkesan bagi Soo A dan perlahan perasaannya tumbuh pada Eui Hyeon. Ketika Eui Hyeon pergi untuk melanjutkan misinya yang tertunda, Soo A bertekad untuk menemuinya sekali lagi. Tetapi, ia tidak mengetahui nasib yang menunggunya untuk menemui orang yang dicintainya.

Fell in Love at First Sight

Saya belum pernah me-review komik atau manga atau manhwa. Ini pertama kalinya dan Gorae Byul pantas untuk menempati posisi kehormatan tersebut karena style art-nya. Look at this. OH MA GAD. SO BEAUTIFUL. ISN’T IT SO BREATHAKING??? Lihat cara penggambarannya yang begitu detail, terutama di bagian cahayanya. Omg!!! Indah banget bagaikan melihat scene sebuah film, atau dalam konteks ini scene sebuah anime.


My eyes felt so blessed seeing this. Saya butuh waktu beberapa menit untuk bisa move on dari mengapresiasi gambarnya dalam hati sebelum tenggelam dalam ceritanya yang juga sama indahnya. Everything is so smooth and warm. Pilihan warnanya pun juga.. *cheff kiss*. Color palette yang digunakan terlihat tidak sembarangan dipilih. Setiap scene menggunakan warna natural seperti dominan biru, hijau, atau coklat seperti color grading yang ada di film. Saya bsia membayangkan betapa kerennya kalau ini bisa diadaptasi menjadi gambar bergerak alias film.



Saya merupakan orang yang selektif dalam membaca komik dengan menimbang dari art style-nya. Kalau saya suka, saya akan baca, kalau tidak suka akan saya tinggalkan begitu saja. Banyak manga hitam-putih dan style-nya luar biasa bagus. Tetapi, ini on another level karena full color. Saya tidak bisa membayangkan proses pembuatannya seperti apa. Yang saya tahu, ada tahap gambar, coloring, dan juga shading. Pasti ini membutuhkan waktu yang panjang untuk mencapai tingkat detail seperti itu.

Pokoknya saya sangat mengapresiasi gambarnya sampai saya post di snapgram agar orang-orang tahu dan membaca this hidden gem!

Incorporating the Mermaid Tale

Mermaid, seperti yang ada dijudulnya, mengacu pada kisah Little Mermaid yang menjadi populer karena diadaptasi sebagai film oleh Disney. Di sini, kisah hidup Soo A hampir-hampir mirip dengan kehidupan Ariel si putri duyung. Keduanya sama-sama mengalami perubahan 180 derajat dalam hidup sejak bertemu dan menyelamatkan pangeran yang tenggelam di laut. Keduanya juga harus menghadapi berbagai rintangan untuk bisa bersama dengan pangeran yang mereka cintai, serta mengorbankan satu hal yang sangat penting dan bermain peran besar dalam perjalanan mereka ke depannya, yaitu suara, in literal meaning. (Bukan dilucuti hak bersuara kayak di zaman sekarang ya).



Sebagai anak komunikasi, saya sangat prihatin karena kita tahu bahwa hubungan yang baik itu tumbuh melalui komunikasi yang baik pula. Di sini, posisi Soo A yang tidak bisa baca-tulis dan tiba-tiba harus kehilangan kemampuan berbicaranya membuat saya iba sekaligus gemas karena how on earth she would communicate? Apalagi dia hidup sebatang kara. Poor girlL Untungnya, Soo A masih memiliki nasib baik dengan berkomunikasi lewat gambar, gerakan tubuh, dan ditambah bantuan orang-orang yang baik.

Hal yang menarik bagi saya di sini adalah bagaimana penulis menarasikan versi little mermaid-nya sendiri yang terbilang unik. Saya tidak akan pernah terpikir untuk menggabungkan kisah Disney dengan kisah seorang gadis Korea di masa penjajahan Jepang. It’s brilliant. Sebagai pembaca, saya bisa menebak ceritanya karena masih terdapat unsur yang sama dengan kisah aslinya sekaligus dibuat terkejut sepanjang cerita. Contohnya ketika Soo A kehilangan kemampuan bicaranya.

(SPOILER WARNING!)

Seperti yang sudah kita ketahui, Ariel menukarkan kemampuan bicaranya dengan sepasang kaki untuk bisa bertemu dengan sang pangeran yang hidup di darat. Hal tersebut dapat terwujud berkat sihir Ursula si penyihir setengah gurita. Di Gorae Byul, tidak ada penyihir. Yang ada adalah anggota organisasi kemerdekaan Korea yang juga diikuti oleh Eui Hyeon menjadi antagonis (kinda) dalam webtoon ini.

Setidaknya ialah yang menyebabkan pita suara Soo A rusak permanen dengan memaksanya untuk meminum racun yang seharusnya membunuhnya. Soo A terjebak dalam keadaan di mana ia sedang mencari informasi mengenai pangerannya dan malah tak sengaja menguping pembicaraan rahasia organisasi. Dikira sebagai penyusup, Soo A harus dibungkam agar tidak membocorkan rencana mereka kepada pihak Jepang. Saya bilang kinda karena dia terpaksa dan terlihat menyesal atas perbuatannya di bab-bab selanjutnya.

Perpaduan yang Berimbang

Menurut saya, ini adalah bentuk storytelling yang cerdas karena penulis tahu porsi yang tepat dalam menyuguhkan kisah yang berdasar dari dongeng, tetapi mengambil latar yang tidak biasa, di tengah perang yang betulan terjadi di kehidupan nyata. Bahkan bisa dibilang, webtoon ini lebih berfokus kepada drama historical-nya dibanding kisah cinta antara Soo A dan Eui Hyeon.


Sampai chapter 33 ini, (little spoiler) belum ada tanda-tanda salah satu dari mereka akan confess ke satu sama lain. I mean, they don’t have time for romance ketika ada hal yang lebih penting untuk diurus yaitu kemerdekaan negara, kan?

Saya malah curiga dengan tag tragedy di genrenya. Jangan-jangan cinta Soo A bakal bertepuk sebelah tangan dan mereka tidak berakhir bersama. (Please god no). The girl has gone through some terrible things and she deserves happiness! Kisah romance di sini bagaikan pengingat bahwa selalu ada harapan yang patut diperjuangkan di tengah kondisi terburuk sekalipun.

Jadi, di webtoon ini tidak ada bagian menyeh-nya yang mana saya sukak. Banget. Banget. Bangetttt. Jatuhnya malah cenderung angsty dan tragedy. Dan saya pun juga sukakkk. Untuk yang belum tahu, saya ini anaknya memang suka yang dramatis dan agak melankolis dibanding yang terlalu manis-manis.

Di webtoon ini, saya juga jadi belajar tentang sejarah Korea di masa kependudukan Jepang. Bacaan yang sangat berfaedah. Cara penggambarannya (I can’t stop praising the art, so don’t try to stop me) berhasil membuat saya terpikat dan tidak bosan sama sekali dengan tema yang cukup berat yaitu sejarah dan politik Korea. Saya merasa penggabungan dongeng dan sejarah dalam webtoon sebagai teknik bercerita yang terbilang modern ini berhasil dan merupakan sesuatu yang saya inginkan untuk nikmati dari suatu bacaan sejak sekian lama.

Rating:
5 bintang untuk art yang begitu indah dan cinematic, cerita yang one of a kind dan sulit untuk ditemukan di luar sana, serta pembuktian bahwa dongeng tidak selalu berjalan mulus seperti yang film Disney tampilkan.

Trigger warning:

Adegan suicide dan percobaan pembunuhan yang sedikit graphic.

Komentar