Langsung ke konten utama

Review Buku: The Wicked King (The Folk of the Air #2)



Judul: The Wicked King (The Folk of the Air #2)
Penulis: Holly Black
Genre: Young Adult, Faerie
Jumlah Halaman: 336 Halaman
Tahun Terbit: 2019
Penerbit: Little, Brown Books for Young Readers

“Power is much easier to acquire than it is to hold on to.”

Sinopsis
You must be strong enough to strike and strike and strike again without tiring.

The first lesson is to make yourself strong.

After the jaw-dropping revelation that Oak is the heir to Faerie, Jude must keep her younger brother safe. To do so, she has bound the wicked king, Cardan, to her, and made herself the power behind the throne. Navigating the constantly shifting political alliances of Faerie would be difficult enough if Cardan were easy to control. But he does everything in his power to humiliate and undermine her even as his fascination with her remains undiminished.

When it becomes all too clear that someone close to Jude means to betray her, threatening her own life and the lives of everyone she loves, Jude must uncover the traitor and fight her own complicated feelings for Cardan to maintain control as a mortal in a Faerie world. (goodreads.com)


Lolos dari Kutukan Sequel

Banyak buku kedua dari sebuah seri yang terjerembab baik cerita, plot, dan karakter-karakternya. Penulis tidak bisa lagi memegang kekuatan unsur-unsur tersebut di buku kedua. Alasannya kemungkinan karena buku pertama sangat bagus dan ekspektasi pembaca terlanjur tinggi, penulis menjadi overthinking di buku kedua dan malah melebarkan ceritanya ke mana-mana, atau memang buku kedua seharusnya tidak pernah ada tapi karena satu dan lain hal akhirnya diterbitkan.

Kutukan semacam itu tidak berlaku pada The Wicked King. Saya merasa buku ini lebih kuat dari buku pertamanya dari sisi plot dan character development. Mungkin karena saya sudah mulai terbiasa dengan dunia faerie ini yang ternyata tidak seasing yang saya pikirkan di awal. Atau mungkin karena saya membacanya secara maraton, langsung lanjut setelah menyelesaikan The Cruel Prince sehingga hype-nya masih ada dan masih ingat apa saja yang terjadi.

Alasan paling utama yang menyebabkan buku ini bisa going strong setelah buku pertamanya adalah event yang diceritakan benar-benar kelanjutan dari buku pertama. Kita tidak diberikan kisah flashback Jude bertahun-tahun yang lalu terlebih dahulu atau dikenalkan tokoh baru dengan ceritanya yang membuatnya terasa seperti memulai seri baru. Banyak buku kedua menggunakan format ini dan gagal karena pembaca di titik ini tidak peduli dengan premis lagi. Pembaca ingin tahu kelanjutan dari kisah di buku pertama tanpa penundaan yang berkepanjangan.

(SPOILER WARNING!)

Di buku pertama, kericuhan yang terjadi di istana menyebabkan adanya perubahan struktur kerajaan secara mendadak. Di tengah sekian banyak kekacauan, Jude berhasil mengambil alih kekuasaan (kind of) dengan keterikatannya (secara sihir) dengan Cardan yang menduduki tahta sebagai raja. Cardan menjadi puppet-nya Jude. Jude yang sebelumnya nobody, di akhir buku menjadi somebody yang memiliki kendali atas dunia dan seisi orang-orang yang dahulu meremehkannya. So interesting, right? 

Bisa dibilang ini adalah momen yang tepat untuk mengakhiri buku pertama karena sedang di bagian klimaksnya. Saya bisa membayangkan apa yang mungkin akan terjadi di buku kedua dengan Jude yang sudah memiliki power dan ingin cepat-cepat tahu kelanjutannya.

Tanpa berpanjang kalam di awal, The Wicked King langsung picked up where it left. Latar waktu dan tempatnya masih sama seperti di buku sebelumnya. Latar suasananya pun masih sama. Saya merasa buku ini sebetulnya masih The Cruel Prince, tapi versi extended-nya.

Terlalu Banyak dan menjadi Samar

Buku The Wicked King terdiri dari 70% action dan 30% drama. Karena porsi yang cukup banyak di aksi, saya sebetulnya tidak ingat persis apa yang terjadi dan bagaimana alurnya jika mesti menyebutkan secara berurutan. Jude sudah seperti bukan manusia lagi karena yang ia kerjakan hanyalah bertarung, terluka, terjebak, dan menjalani misi. Pola tersebut digunakan berulang kali sepanjang seri. Jarang sekali disebutkan ia tidur, makan, apalagi buang air dalam kegiatannya. Meskipun ini fantasi, tapi saya jadi penasaran dengan batasan Jude sebagai manusia.

Untuk porsi dramanya, cukup menarik juga karena kita dikenalkan dengan beberapa tokoh baru (yang saya ingat samar-samar). Dengan siapapun Jude bertemu, ia akan melakukan salah satu dari kedua hal ini: membuat bargain atau bertarung. Saya merasa tokoh-tokoh ini meskipun secara fisik dan lokasinya berbeda, mereka memiliki fungsi yang sama. Menjadi tokoh filler untuk mengantarkan Jude ke ujung dari misinya. Meskipun memang banyak dan tidak meninggalkan jejak yang berarti, bisa dibilang kehadiran tokoh-tokoh ini memberikan variasi dalam cerita dan cukup terasa fun for a while

Intinya, terlalu banyak kejadian dan tokoh (terutama yang mirip-mirip) dalam sebuah buku menjadi dua mata pedang. Pembaca akan dipuaskan dengan kedinamisan cerita atau dibuat overwhelmed dan meninggalkan sedikit kesan memorable.

Di buku kedua ini, saya masih belum menemukan tokoh yang membuat emotionally engaged selain Cardan sebagai love interest. Seperti yang saya sebutkan di review buku pertama, sifat Jude membuatnya selalu menjaga jarak dengan orang lain. Saya sebagai pembaca juga bawaannya jadi selalu curiga ke tokoh-tokoh di sekitarnya. Jadi, kalau ada tokoh yang tiba-tiba berkhianat, I’d be like “I know you’d do that since 234 pages ago.” Pokoknya, banyak pengkhianatan yang terjadi hingga kita tidak lagi terkejut. Buku ini benar-benar menajamkan trust issue yang sudah saya miliki dari sebelum membacanya.

Read this for the Wild Ride and Fun Twist

Keunggulan dari seri ini adalah aksinya yang non-stop dan twist yang diselipkan di banyak bagian. Jude yang keras kepala dan impulsif membuatnya cepat bertindak sekaligus cepat terjerumus ke dalam suatu masalah baru. Yang mana kalau di dunia fantasi rasanya sangatlah menyenangkan, lain ceritanya jika terjadi dalam kehidupan kita di dunia nyata. Saat membaca buku ini, saya agaknya merasakan adrenaline rush yang biasanya lebih sering terjadi saat menonton film dibandingkan membaca buku. Holly Black sebagai penulis sangat mahir dalam menyusun adegan action dengan tetap menyeimbangkan kisah dramanya.

Ditambah lagi, Cardan makin ke sini ternyata cukup savage dan funny yang membuat petualangan Jude menjadi semakin berwarna (tidak segelap buku pertama).

The three of you have one solution to every problem. Murder. No key fits every lock.” Cardan gives us all a stern look, holding up a long-fingered hand with my stolen ruby ring still on one finger. “Someone tries to betray the High King, murder. Someone gives you a harsh look, murder. Someone disrespects you, murder. Someone ruins your laundry, murder.

Twist di bagian akhir buku lumayan asyik karena terjadi bertubi-tubi hanya dalam sehari dalam waktu di buku. Belum pernah saya menemukan twist yang berani seperti ini di buku YA lain yang tidak membuat keseluruhan cerita menjadi cheesy dan kelewat terpaksa. Pengkhianatan dari orang yang tidak terduga (ini subjektif tergantung ketajaman insting masing-masing orang sih), terjebak sampai merasa hopeless, dan kejadian-kejadian di ambang hidup-mati lainnya. Rangkaian twist ini mengantarkan ke bagian ending yang ditutup dengan adegan yang menggantung (lagi). Seperti buku pertama, cerita dari awal sampai akhir terasa begitu dinamis. Sulit bagi saya untuk menutup buku di tengah-tengah membaca. Saya memang tidak melakukannya kecuali untuk keperluan yang sangat genting.

Rating:

4,5 bintang untuk kelanjutan cerita yang tidak ditunda-tunda, aksi dan kejutan yang bahkan melebihi buku pertama, serta love-hate relationship Jude dan Cardan yang membuat banyak dialog menjadi quotable.

Komentar