Judul: Marriage Story
Sutradara: Noah Baumbach
Sutradara: Noah Baumbach
Penulis Naskah: Noah Baumbach
Pemain: Scarlett Johansson, Adam Driver, Laura Dern, Julia
Greer, Azhy Robertson
Genre: comedy, drama, romance
Durasi: 2 jam 17 menit
Tanggal Perilisan: 6 Desember 2019
Criminal lawyers see bad people at their best, divorce lawyers see good
people at their worst
Sinopsis
Sepasang suami-istri bernama Charlie (Adam Driver) dan
Nicole (Scarlett Johansson) sedang menjalani proses perceraian. Pekerjaan
mereka yang saling berkaitan—Charlie yang seorang sutradara teater dan Nicole
yang seorang aktris teater—awalnya membuat mereka bersama namun ternyata
menimbulkan masalah yang membawa mereka ke perceraian. Semua aspek dalam hidup
mereka yang tadinya selaras tiba-tiba berbenturan.
Mereka berusaha untuk mencari jalan keluar seperti melsayakan
mediasi dengan psikolog (atau ahli pernikahan, I guess), namun gagal. Pada akhirnya, mereka dengan berat hati
harus menghadapi perpisahan di pengadilan. Di tengah itu semua, diceritakan
mengenai perubahan flow kehidupan
disebabkan oleh perceraian, mulai dari pekerjaan, hak asuh anak, keluarga, dan
juga cara pandang baru dari sisi masing-masing.
It’s Drama
Naskah yang ditulis oleh Baumbach ini memang sangat kuat di
dialognya. Sama seperti film-filmnya yang lain yang saya dengar dari
orang-orang, dan Marriage Story merupakan filmnya yang pertama saya tonton.
Karena mungkin saya sudah siap film seperti apa yang akan saya tonton, saya
bisa menikmati seluruh ceritanya. Kita serasa diajak untuk melihat hidup Nicole
dan Charlie dari sudut yang paling normal dan realistis.
Semua dialog terasa natural. Di tengah bantering antara dua orang misalnya, tiba-tiba muncul topik remeh
yang lain walaupun tidak dibiarkan berlarut dan kelewat nonsense. Persis seperti obrolan kita sehari-hari yang suka
ngalor-ngidul. Baumbach bisa meng-capture
itu dan tidak membuat tokohnya seperti berusaha spitting quotes here and there.
Yang mengejutkannya, kata Scarjo, adalah seluruh dialog
tidak ada yang diimprovisasi bahkan tidak diperbolehkan sembarangan menambah
kata “but”. Padahal sering kita temukan kalau adegan yang memorable datangnya dari ide aktris atau aktornya yang ingin berimprovisasi.
Well.. di film ini malah kebalikannya dan pastinya tidak mudah untuk benar-benar
stick to the script without any
improvisation but make it looks like as natural as possible.
Untuk ceritanya, film ini tidak memiliki adegan action sama sekali. Mungkin kalau di
film seperti ini adegan yang mungkin diekspektasi untuk muncul adalah lempar
piring dan barang pecah belah atau lari-lari mengejar sang pasangan. Tidak ada
sama sekali, itu cuma ada di film (walaupun ini juga film sih). Bahkan
klimaksnya pun, debat hebat antara Nicole dan Charlie, bukan adegan yang langsung
kita anggap menonjol. Mungkin saking subtle-nya,
kita baru sadar kalau itulah adegan klimaksnya setelah film berakhir. Apalagi
sepanjang film, Nicole dan Charlie memang selalu diskusi, menyesal, dan
berdebat.
Jadi kalau bukan pecinta drama, mungkin akan cepat bosan
saat menonton Marriage Story. Ditambah lagi ceritanya yang dituturkan secara slow-paced. Kalau menunggu sesuatu yang
duarrr seperti film Hollywood dengan format yang umum, I should tell you now that you’ll be disappointed. But there’s still a
bunch of amazing thing about this movie.
How Relationship Changed
Apa yang saya dapatkan secara garis besar dari film ini
adalah se-cheesy penggambaran meme laki-laki
putus hubungan, lalu dengan cepet melupakan tapi di akhir baru merana; dan perempuan
yang sedih banget dengan perpisahan mereka tapi akhirnya bisa move on dan bahagia.
Lebih dari itu, di film sebetulnya tidak ditunjukkan secara gamblang
penyebab mereka sangat ingin cerai. Di awal, masing-masing membacakan surat
tentang the things I love about him/her
dan semuanya terlihat tulus di kedua pihak. Terus tiba-tiba di sepanjang film,
Nicole sangat ingin berpisah padahal sebenarnya dia terlihat berat juga untuk
melaksanakannya.
Tetapi kita bisa menyusun piece by piece alasan Nicole ingin pisah lewat informasi yang
diberikan melalui dialog. Dan memang alasannya bukan semacam ketahuan selingkuh
lalu marah besar lalu cerai. Ceritanya jadi menarik karena mereka adalah pasangan
yang ingin pisah baik-baik dan tidak mau ada violent karena ya.. sebenernya masih sayang (Alexa, play some sad
song pls).
Mereka berdua merupakan pekerja seni yang talented, dasarnya tidak suka dikekang,
dan punya keinginan yang kuat.. yang sayangnya juga berlawanan. Dari situ,
semua mulai going down. Kita juga
lihat betapa relatable-nya hubungan
mereka. Mulai dari saling terpikat karena berada di satu dunia yang sama dan
rasanya bisa saling membantu untuk meraih mimpi berdua. Lalu mulai muncul
perbedaan, kesibukan dan pekerjaan yang menyita waktu, dan yang paling bahaya
tapi sangat umum, perasaan jenuh.
Tidak bisa dibayangkan bagaimana orang bisa bosan dengan
seorang Nicole/Scarjo. Tapi ya.. sebuah hubungan memang begitu adanya. Saya sering
dengar dari sana-sini kalau hubungan itu memang harus ada usaha untuk membangun
dan memperjuangkannya (eaa). Cara yang paling efektif adalah komunikasi yang
mana dilsayakan oleh keduanya di sepanjang film. Tetapi masalahnya adalah ego
yang sama-sama kuat dipertahankan.
Saya nonton sambil berharap mereka bisa rujuk karena, heyy
mereka masih saling sayang! Tapi setiap adegannya juga menunjukkan kalau cerai
juga merupakan pilihan yang inevitable.
Divorce is effing complicated,
baik hukum dan juga perasaan
Yang menarik dari film ini adalah dikuak juga sisi kelam
hukum dari perceraian. Laura Dern yang berperan sebagai Nora, pengacara Nicole,
sangat baik dalam membawakan sosok pengacara professional dalam urusan
perceraian. Karakternya kompetitif, jago debat, nyebelin, dan agaknya
manipulative. Saya belum pernah Laura Dern main peran yang seperti ini karena
biasanya dia main peran yang baik dan keibuan seperti di Jurassic Park atau
TFIOS.
Diceritain juga kalau dengan pengacara yang tepat, kita bisa
memelintir cerita saat masih bersama dan memeras uang dari pasangan. Tapi kita
bisa liat kalo Nicole dan Charles ingin pisah baik2, kayak Nicole tidak mau
ngambil uang hibah Charles untuk teater atau Nicole mau pembagian waktu bagi
anaknya dibagi adil 50/50. Terus juga adanya saling sogok pengacara agar tidak
menambah-nambah keburukan pasangan dalam testimoni di pengadilan.
Di film ini, testimoni cenderung digunakan untuk menentukan
hak asuh anak karena memang mereka berdua sangat sayang dengan anak mereka semata
wayang yang masih kecil, walaupun memang terlihat anaknya lebih nyaman dengan
Nicole.
Tidak cuma ribet di hukum, tapi secara perasaan juga exhausting tentunya. Perseteruan
terbesar Nicole dan Charlie terjadi di tengah proses perceraian ini yang sedang
rumit-rumitnya.
Selain itu yang menurutku pribadi juga cukup memorable adalah little speech dari Nora (Laura Dern) kepada Nicole mengenai
perceraian dan bagaimana terdapat perbedaan standar antara laki-laki dan
perempuan.
“Let's face it, the
idea of a good father was only invented like 30 years ago. Before that, fathers
were expected to be silent and absent and unreliable and selfish, and can all
say we want them to be different…We love them for their fallibilities, but
people absolutely don't accept those same failings in mothers. We don't accept
it structurally and we don't accept it spiritually. Because the basis of our
Judeo-Christian whatever is Mary, Mother of Jesus, and she's perfect. She's a
virgin who gives birth, unwaveringly supports her child and holds his dead body
when he's gone. And the dad isn't there... God is the father and God didn't show
up…You will always be held to a different, higher standard. And it's efed up,
but that's the way it is.”
Akting
Akting yang keren karena dialognya yang kuat menyebabkan
emosi yang paling perlu ditonjolkan, dan para aktor & aktrisnya berhasil
menyampaikannya. Aktor dan aktris yang dilibatkan juga nama-nama besar, terutama
untuk tokoh utama yaitu Scarjo dan Adam driver.
Saya pribadi jadi
mendapatkan sudut pandang baru dari keahlian mereka dalam berakting. Film yang
membawa nama mereka melejit adalah film blockbuster
seperti Iron Man dan Avengers untuk Scarjo sementara Star Wars untuk Adam
Driver. Tapi menariknya, saya tidak terngiang-ngiang dengan tokoh mereka di
sana atau ter-distract dengan akting
mereka di film yang sangat berbeda.
Malahan saya jadi makin menghargai mereka karena bisa
berhasil membawa tokoh-tokoh yang sangat beragam karakternya. Di film
blockbuster, mereka sama-sama berkarakter badass
dan unbreakable, di sini, mereka
terlihat mature dan vulnerable. The duality is just amazing
to me.
Melihat Adam yang jadi ke-bapak-an dan Scarjo yang, oh god, hampir selalu berkaca-kaca
setiap ngomong sama calon mantan suaminya seperti orang yang masih sayang tapi juga
frustrated karena tidak menemukan
jalan keluar lain selain berpisah. Chemistry
yang dibangun juga baik karena mereka sama-sama bisa menunjukkan emosi sebagai
pasangan yang sebetulnya masih sayang namun tersiksa dibalik ego masing-masing.

Komentar
Posting Komentar