Langsung ke konten utama

Review Buku: Kiai Hologram




Judul: Kiai Hologram
Penulis: Emha Ainun Nadjib
Genre: Nonfiksi, Agama
Jumlah Halaman: 296 halaman
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: Maret 2018


Sinopsis

Mudah mengagumi, mudah menjatuhkan. Cepat mencintai dan dengan segera membenci. Viral secara instan, lalu menghilang dengan tiba-tiba. Entah mengapa, menebak isi hati manusia belakangan ini begitu sulit. Padahal, orang-orang dengan gegap gempita membagikan cerita kesehariannya pada ruang-ruang publik. Semua yang kita kira transparan dan nyata, bisa jadi semu belaka. Begitu sebaliknya.

Keputusasaan manusia dalam menemukan apa yang sesungguhnya nyata di dunia mendorong Emha Ainun Nadjib menuliskan esai-esai dalam buku ini. Bahwa meskipun manusia gemar membongkar kepalsuan-kepalsuan, sejatinya ia sendiri tengah menutupi hatinya dengan kepalsuan yang lain. (goodreads.com)


Sekumpulan Esai yang Gamblang dan Penuh Rasa

Buku ini merupakan kumpulan tulisan esai Cak Nun yang menceritakan macam-macam topik berdasarkan pengalaman dan pemahaman beliau. Ia membahas tentang kehidupan, agama, kemanusiaan secara gamblang yang dituangkan dari hati.

Pada bagian awal, dibahas mengenai makna kehidupan beragama di tengah gempuran globalisasi melalui pengalaman pribadinya. Tulisannya juga terasa lebih solid karena memberikan perbandingan kondisi dulu dan sekarang. Ini menjadi eye-opening bagi saya yang baru 20 tahun hidup dan tidak mengerti banyak kondisi di jaman dulu.

Bahasan menarik lainnya menurut saya dalam buku ini adalah bagian yang menyinggung pendidikan di Indonesia. Bagaimana prestasi murid baik nasional dan internasional mestinya bukan dijadikan tujuan, tetapi sebagai akibat positif dari budaya, akhlak, dan manajemen pendidikan yang didapatkan.

Lalu, juga bab yang menyentil tren ustad zaman sekarang yang banyak videonya diunggah di Youtube (asal dari judulnya Kiai Hologram). Ini menunjukkan kalau orang zaman sekarang haus akan nasihat. Apa yang disuguhkan langsung dimakan. Di sisi lain, Cak Nun merupakan tipe guru yang lebih suka mengajak berpikir dan berkontemplasi.

Jadi, melihat orang-orang yang cepat kemakan umpan, beliau merasa gemas juga dan be like “Allah ngasih kita otak kan agar manusia mampu berpikir, terus juga udah dititipkan Al-Quran dan hadist, memangnya masih kurang?”


Belajar Agama dari Pendekatan yang Refreshing

Pernah merasa tidak sih, kalo agama sering diajarkan dan disampaikan ke kita dengan cara yang terlalu kaku? Jatuhnya menjadi sulit dimengerti dan tidak relatable. Itu yang saya temui saat belajar agama dan membaca bahan bacaannya saat di bangku sekolah.

Isinya cuma bisa dihafal saja, sulit untuk diresapi apalagi dilaksanakan. Tutup buku langsung menguap yang baru dibaca. Padahal agama itu kan meliputi segala aspek kehidupan, harusnya kita bisa menemukan korelasi-korelasi antara agama dan kehidupan kita di taraf kegiatan sehari-hari.

Lewat buku ini, saya menemukan bahwa agama tidak muluk-muluk apa yang kita hafal dari buku saja. Sebenarnya dalam fenomena apapun yang terjadi dalam hidup bisa ditinjau dari sisi agama.

Hidup ini tidak pernah jauh dari kehendak Tuhan dan pemahaman mendasar seperti ini membuat agama lebih fitting bagi kita manusia yang hidupnya tidak lurus-lurus selalu. Cak Nun mengajak kita tidak hanya mengetahui apa yang ada di permukaan, tetapi juga menyelami apa yang ada di dalamnya. Suatu pendekatan agama yang sayangnya banyak orang, termasuk orang tua dan guru agama, miss.

Selain itu, saya jadi sadar bahwa Cak Nun bukan cuma seorang ahli agama, tetapi juga seorang seniman dan pemikir yang membuatnya berbeda dari penulis lain. Hal itu terlihat dari cara penulisannya yang memiliki kekuatan bukan hanya karena berasal dari kalimat Tuhan, tetapi juga hasil kontemplasi manusia yang sudah diberi akal dan budi.

Beliau juga membuktikan bahwa menjadi ahli agama sekaligus seniman itu bisa dan bukanlah hal yang buruk. Karena banyak orang yang melihat kedua hal ini saling berlawanan.

Intinya, Cak Nun adalah contoh sosok orang yang stay true dengan apa yang ia yakini, utarakan, dan tuliskan; Di saat ada tokoh ahli agama lain yang omongan dan kelakuan suka tidak match dan membuat masyarakat awam seperti kita bingung menanggapinya.

Beliau mengajarkan kita bahwa dalam memahami agama dan juga kehidupan tidak harus selalu kita he-eh-in saja dan telan mentah-mentah. Kita pun boleh mengajukan pertanyaan, boleh mengkritisi. Ini menunjukkan bahwa agama juga memberikan sense of liberty dan bukannya bertujuan untuk membelenggu.

Tapi, secara bersamaan tentunya juga harus sadar bahwa kita sebagai manusia memiliki keterbatasan sehingga memohon petunjuk menjadi sebuah kebutuhan dalam melalui perjalanan menguak pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Banyak Bagian yang Saya Tandai

Saya tandai kenapa? Bukan karena buruk atau bermasalah, malah kebalikannya, menarik banget dan eye-opening. Bikin saya saat baca menemukan momen “Nah, ini nih!”. Banyak hal yang disampaikan dengan well-said (atau well-written karena ini tulisan). Beberapa di antaranya yang sudah saya paraphrased:

Saat orang-orang to be, saya gagal bertubi-tubi (Hal. 17)

Segala kekaguman harus diteruskan kepada Tuhan (Hal. 87)

Apakah Tuhan itu benar ada? Lebih baik kita pilih percaya saja. Jika nanti ternyata memang ada, kita sudah siap. (Hal. 138)

Salah satu bagian yang wow dan mind-blowing bagi saya:
Kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa sering disalahpahami (mungkin saya saja sih yang salah paham) karena dilihat dari satu sisi saja. Kisah yang menceritakan bagaimana Nabi Musa “gagal” menjadi murid  Nabi Khidir, sebetulnya bukan menunjukkan kegagalan dalam menuntut ilmu karena tidak sabar dan sering menyela gurunya, melainkan bentuk peneguhan sifat manusia yang umumnya berpegang pada moral dan hukum. (Hal. 165)

I can feel this one on spiritual level:
Aku diam-diam menantikan waktu saja sambil tak pernah mengemukakan secara eksplisit maksudku sesungguhnya. Yang kumaksud justru terletak pada kalimat-kalimat yang tak kuucapkan. (Hal. 257)

Ilmu yang saya terapkan (dan selalu berhasil meyakinkan saya untuk tidak menyerah) ketika mengikuti lomba atau dalam situasi yang kompetitif:
Juara itu berlaku sedetik, berlaku hanya di salah satu koordinat ruang dan waktu. Begitu koordinatnya bergeser, juara bisa berbalik. (Hal. 130)


Rating dariku: 5 bintang untuk esai yang segar, pembahasan agama yang terasa dekat dan manusiawi, serta ilmu yang bermanfaat untuk waktu yang sangat panjang.

Komentar