Langsung ke konten utama

Review Buku: The Cruel Prince (The Folk of the Air #1)


Judul: The Cruel Prince
Penulis: Holly Black
Genre: Young Adult, Faerie
Jumlah Halaman: 370 Halaman
Tahun Terbit: 2018
Penerbit: Little, Brown and Company

“If I cannot be better than them, I will become so much worse.”

Sinopsis

Faerie (fairy): Peri

(Contohnya seperti di film Lord of the Rings. Kalau di buku ini dideskripsikan memiliki tubuh yang lebih ramping & tinggi dibandingkan manusia, bola mata seperti kucing, berekor seperti kucing juga, kulit pucat, umur sampai ratusan tahun, bisa menampakkan diri sebagai manusia di depan manusia, sensitif, dan manipulatif walau tidak bisa berbohong,)

Kisahnya menceritakan tentang Jude (manusia, bukan faerie) bersama dengan saudari kembar dan kakaknya yang diculik ayah tirinya yang merupakan faerie. Mereka dibawa dari dunia manusia, tepatnya Amerika, ke dunia faerie yang saya lupa apakah ada sebutannya tersendiri atau tidak. Setelah beberapa tahun menetap, Jude merasakan kalau menjadi manusia di dunia faerie sangat tidak menyenangkan karena mereka melihat manusia sebagai makhluk yang lebih rendah dan lemah.

Jude yang memiliki temperamen, egoisitas, dan harga diri tinggi (your typical YA books’ heroines y’all) tidak menerimanya begitu saja seperti saudari kembarnya. Ayah tirinya yang berdarah dingin bersedia membekali Jude teknik bertarung untuk membantunya bertahan hidup (because there will be deaths ofc). Ia melihat ini sebagai tantangan untuk membuktikan bahwa dirinya juga bisa meraih kedudukan di dunia faerie. Namun, orang-orang di sekolahnya (bangsa faerie peduli akan pendidikan juga) tidak membuat hal itu menjadi mudah.

Terutama Cardan, seorang pangeran and a total jackass (asal-usul judulnya) dan gengnya yang selalu merundung Jude dengan berbagai cara yang selalu hampir membunuhnya. Rahasia dan pengkhianatan yang terjadi di dalam kerajaan memberikan Jude kesempatan untuk benar-benar membuktikan kemampuannya dalam bertarung. Keterlibatannya dengan keluarga kerajaan membuat Jude menguak rahasia dibalik para anggotanya, termasuk Cardan yang merupakan sumber mimpi buruknya.


Membingungkan di Awal

Faerie adalah genre yang baru bagi saya. Sebagai subgenre dari fantasi, buku semacam ini biasanya akan memperkenalkan dunia dan karakteristik tokohnya kepada pembaca. Tujuannya agar pembaca dapat membayangkan dengan baik apa yang sedang terjadi. Kasarnya, menyamakan pikiran dan imajinasi penulis dengan kita sebagai pembaca. Saya sangat menghargai dan menikmati tulisan yang bisa menggambarkan secara deskriptif dunia yang sebetulnya tidak ada menjadi terasa nyata meskipun hanya di dalam kepala.

Saat membaca The Cruel Prince, saya merasa deskripsi tersebut kurang dikembangkan. Apalagi ini adalah buku pembuka dari seri The Folk of the Air. Bagian opening-nya terasa rushing dan tidak realistis (walaupun ini memang buku fantasi, sih). Selama bab 1-7, banyak hal-hal yang tiba-tiba muncul entah bagaimana. Meninggalkan saya dengan banyak pertanyaan how and why.

Kenapa Jude sangat ngotot untuk memiliki kedudukan di dunia faerie padahal dia 100% berdarah manusia dan kenyataannya dunia faerie lebih brutal dan manusia tidak diciptakan dengan fitur tertentu yang hanya dimiliki faerie? Kenapa juga faerie ini sangat sinis ke manusia tapi di sisi lain juga ada yang menikahinya? Bagaimana bisa Jude dan ayah tirinya memiliki mood swing yang ekstrem dan bertahan sebagai keluarga?

Alurnya juga tidak membantu karena tidak jelas kenapa dari begini bisa begitu. Saya merasa di-drag ke sana ke mari karena tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Kalau umumnya cerita dimulai pelan dan baru berakselerasi, buku ini tidak begitu. Saya berpikir bagian awal ini hanya sebagai filler saja untuk mengantarkan ke plot utamanya. Tapi filler ini sayangnya tidak filling me as the reader with needed basic information.

Jude dan tokoh-tokoh yang lain pun tidak terlihat memiliki distinct personality di awal. Pokoknya semua di-gas saja tanpa motivasi yang jelas. Ini menyebabkan saya agak sulit untuk bersimpati kepada Jude dan menikmati kisahnya. Ia tidak terasa personal sebagai tokoh utama. Di saat itu, saya sudah sangat siap untuk memberi bintang 2 setelah menghabiskan satu buku (atau nyerah di tengah). Untungnya, the table finally has turned, plot dan karakter para tokohnya menjadi lebih solid serta bisa diikuti di bab-bab berikutnya. Saya tidak bisa berhenti membaca buku ini setalah bab 10 ke atas.


Why so Dark and Angry

Di buku ini diceritakan kalau faerie memang makhluk yang indah, tetapi dunia mereka sangat brutal. Mereka bisa membunuh hanya karena just because. Tidak seperti manusia yang dilatarbelakangi dendam, sakit hati karena perbuatan atau perkataan si korban, sedang terancam, dll. Pokoknya, mereka unforgiving dan kehidupannya tidak mengenal kata santai. Pesta yang diadakan di kerajaan (saya lupa itu merayakan apa) bisa membuat para undangannya menari berhari-hari nonstop sampai mereka mati kelelahan.

Saya tidak bisa menghitung berapa jumlah kata “angry” di sepanjang buku saking seringnya menemui kata tersebut di tengah kalimat-kalimatnya. Salah satu quote dari Jude:

Angry is better than scared.

Well, our girl totally needs to chill.

Saya paham kenapa ada begitu kemarahan di buku ini. Melalui Jude, kita melihat bahwa menyimpan rasa amarah ada untungnya karena bisa membuat orang tidak mudah percaya dan stay alerted. Hal ini memungkinkan Jude untuk bertahan di dunia yang tidak se-civilized dunia kita. Apalagi ia bertekad untuk meraih kedudukan sebagai knighthood yang tidak umum bagi wanita terutama wanita ini adalah manusia. I’m such a sucker for underdog yang berusaha membuktikan diri dengan menjadi orang penting di seantero wilayahnya.

Masih tentang kemarahan, romance yang berkembang pun juga terbawa vibe “out of angriness”. Namun, saya malah suka karena kita bisa melihat bagaimana mereka menjadi bingung dengan perasaaan mereka dan berjuang dalam pergulatan batin. Terasa berbeda dengan romance pada buku YA lain yang cepat menjadi menyeh.


Faerie for Me as a First Time Reader

Sejujurnya saya cukup maju-mundur untuk memutuskan baca The Cruel Prince karena meskipun ratingnya masuk standar saya, tapi ini adalah buku faerie dan saya belum pernah membaca buku bergenre ini. Saya punya satu keraguan akan genre faerie. Menurut saya, faerie kelihatannya memiliki  konsep yang mirip dengan genre vampire. Tujuan utama dari buku vampire adalah fan-service atau membuat senang pembaca dengan vampir yang tampan nan sempurna. Dan buku dengan genre vampire didn’t work for me (film seri twilight juga ga menarik bagi saya karena sampai sekarang cuma pernah nonton setengah-setengah dan tidak begitu peduli dengan kisah bella-edward).

Saya  pernah baca beberapa buku vampire yang isinya kurang lebih sama: tokoh utamanya cewe normal biasa yang ternyata darahnya spesial lalu diculik oleh si vampire yang akan menjadi pasangan abadinya. Sepanjang plot sisanya berisi female lead yang can’t stop thirsting over the hot male vampire dan terkutuk menjadi bucin. I don’t like it at all, ugh. Tapi nyatanya, banyak orang yang suka cerita semacam ini karena buku vampire jumlah serinya bisa sampai belasan dan ratingnya tetap bertahan di atas bintang 4.

Faerie dan vampire memiliki kesamaan dalam penggambarannya sebagai makhluk yang lebih kuat dan sempurna dibandingkan manusia. Mereka sangat cocok dijadikan male lead karena memanfaatkan kelemahan laki-laki manusia (kulitnya tidak berpendar di bawah sinar bulan, tidak mampu membawamu teleportasi/terbang, dan kadang lebih memprioritaskan sepak bola/video game dibanding pasangannya). Tapi, standar ini sangat tidak realistis dan saya tidak menyarankan untuk menuntut kesempurnaan dari pasangan.

Saya telah membaca The Cruel Prince dan bisa sampai menulis review ini yang artinya adalah.. faerie, untungnya, tidak seperti mayoritas genre vampire di luar sana. Setidaknya tidak di buku ini. Perbedaan dari faerie dan vampire adalah faerie di sini membenci manusia dulu sebelum bisa menyukainya, sedangkan vampire sangat bergantung pada manusia untuk bertahan hidup. Ini yang menyebabkan kemungkinan cerita vampire selalu berakhir menjadi menyeh.

Apakah saya akan membaca buku faerie lain setelah ini? Kalau bisa seperti The Cruel Prince, saya akan membacanya dengan senang hati. Standar saya sudah ter-set tinggi untuk genre ini. Buku ini cukup komplit dengan plot yang action-packed yang dilengkapi sedikit bumbu romance. Pada akhirnya buku ini tidak jauh beda dengan buku-buku YA lainnya, yang mana saya pernah baca dan sangat sukai.

Rating:

4 bintang untuk female lead yang tidak takut meng-explore kelemahannya sekaligus kekuatannya, petualangan tanpa henti yang penuh dengan ketegangan dan kejutan, serta pengenalan kisah faerie yang tidak mengecewakan sama sekali.

Komentar