Penulis: Madeline Miller
Genre: Mitologi, Fiksi
Jumlah Halaman: 393 Halaman
Penerbit: Little, Brown and Company
Tahun Terbit: 2018
“But in
a solitary life, there are rare moments when another soul dips near yours, as
stars once a year brush the earth. Such a constellation was he to me.”
Sinopsis
Circe merupakan Dewi dari mitologi Yunani yang mungkin tak
sering kita dengar namanya. Kisahnya menceritakan kehidupannya dari ia kecil sampai
dewasa di mana baik makhluk immortal maupun manusia meremehkannya. Ia tidak
cantik seperti saudarinya dan kuat seperti saudaranya, ibunya membencinya
karena kelemahannya, ayahnya tidak benar-benar peduli padanya. Ia memiliki
keistimewaan yang menurut dewa-dewi lain berbahaya dan hanya mendatangkan keburukan,
yaitu sihir.
Sepanjang kisah Circe di buku ini, kita dapat menemukan bagaimana
dewi ini menghadapi kehidupan sebagai sosok imortal yang tidak seindah yang
kita bayangkan. Ia akan bertemu dengan tokoh-tokoh seperti pada kisah aslinya
dan bagaimana dari pertemuan itu ia belajar memahami makna lain dari statusnya sebagai
seorang dewi dan juga tentunya menemukan kekuatan sejatinya.
Bacaan yang Indah
Kalau kalian berniat untuk baca Circe, sebaiknya dibaca
pelan-pelan. Maksudnya gimana? Pola alur buku biasanya terdiri dari
premis-klimaks-penutup, seperti segitiga. Saya sudah sangat sering baca buku
seperti itu sampai lupa kalau itu bukan hal yang wajib untuk diterapkan. Circe
merupakan salah satu yang tidak mengikuti kaidah tersebut.
Circe harus dibaca pelan-pelan karena, menurut saya, yang
dinikmati itu bukan ceritanya, tetapi diksinya yang poetic, dipilih secara hati-hati dan sepenuh hati. Circe sebagai
karakter utama bukanlah tokoh yang paling lovable
yang bisa kita temui di luar sana dan juga sepanjang ceritanya sering mengalami
abuse dari mayoritas tokoh-tokoh
lain. Diksi dan penuturan yang apik membuat saya bisa bear the whole difficult things.
“It is a common saying
that women are delicate creatures, flowers, eggs, anything that may be crushed
in a moment's carelessness. If I had ever believed it, I no longer did.”
“A golden cage is
still a cage.”
Sejujurnya, saya merupakan tipe pembaca yang sering skip-skip paragraf terutama yang panjang
karena tidak sabar ingin megetahui kejadian berikutnya. Berbeda dengan buku
lain, Circe membuat saya menikmati dan berlama-lama membaca kata demi kata.
Buku ini bisa diibaratkan sebagai air yang kalem, terkadang
beriak, tetapi tidak ada gelombang besar di tengah-tengahnya. Ternyata, itulah charm dari buku ini dan saya belajar
bahwa semua buku memiliki temponya masing-masing yang tidak bisa disamakan serta
dipaksakan.
No bubbly-fun tale like
Percy Jackson
Saya excited untuk
baca buku ini karena dua hal: 1) buku ini pemenang kategori best fiction di goodreads choice awards
dan 2) ceritanya tentang mitologi Yunani. Saya diperkenalkan ke dunia mitologi
Yunani lewat seri Percy Jackson saat SD dan otomatis tumbuh bersama kisah
tersebut.
Saya hafal berbagai nama dewa-dewi dan kisahnya yang padahal
tidak diajarkan di sekolahan. Ceritanya yang memanusiakan dewa-dewi Yunani
menjadi daya tarik Percy Jackson bagi pembaca muda. Bagaimana Apollo digamabarkan
memiliki koleksi sport car dan pasangan
Ares-Aphrodite kencan di amusement park.
Hal seperti ini ternyata tidak bisa ditemukan di buku Circe
yang membawa penggambaran dewa-dewi dalam versi aslinya yang in all-serious
manner. Yang pasti, jelas terasa lebih dark
ketimbang Percy Jackson karena memang buku ini bukan diperuntukan untuk pembaca
anak-anak. Jujur, saya agak sedikit taken
aback dengan kisah asli mitologi Yunani yang brutal yang dijadikan kiblat
buku ini karena saya telah terbiasa dengan versi PG-nya.
Di buku ini, tidak bisa ditemukan dewa-dewi Olympia yang
bersifat santai dan kekeluargaan (walaupun terkadang tentu terjadi family feud, no family can resist this
right?). Dewa-dewi di sini digambarkan cold-hearted
dan annoying as hell. Alih-alih
menjalin hubungan keluarga, mereka cuma menjilat sana-sini untuk keuntungan
pribadi.
Ditambah lagi, hal yang cukup mengejutkan bagi saya, kita
akan dikenalkan dengan tokoh demigod, sebagaimana Percy Jackson juga seorang
demigod, yang ternyata di buku ini tidak sebaik dan seheroik Percy Jackson dan
teman-temannya di camp half-blood nun
jauh di Long Island.
Saat membaca buku ini, emosi kita akan diajak bermain karena
kita melihat dunia dari sudut pandang Circe yang mengalami berbagai macam abuse baik secara fisik maupun verbal oleh
banyak makhluk (it’s weird to put it like
this but it’s true). Kita melihat usahanya untuk membuat dirinya worthy of something. Character development menjadi unsur yang
paling menonjol dalam buku ini.
Saat tokoh-tokoh lain (serius, ngga kehitung ada berapa
jumlah tokoh yang datang dan pergi begitu aja di buku ini) gagal membantu Circe
menemukan ke-worthy-annya dan malah
bertindak sebaliknya, kehadiran demigod made
me go like “YES! Fellow demigod would help anyone in need!”.
Ia adalah tokoh yang pastinya tahu kebrutalan dewa-dewi,
tapi di sisi lain masih memiliki sisi moral bawaan manusia. Intinya saya punya
harapan dengan demigod ini. Tapi, ternyata kita tidak bisa secepat itu menilai
orang. Ini bukanlah sosok( dan jauh sekali dari) Percy Jackson. Tokoh-tokoh
lainnya juga mayoritas sama, such a
letdown dan bikin saya gemas karena kesal sepanjang baca.
Bisa dibilang secara kasar, kisah Circe ini bagaikan a series of unfortunate event. Dan
paling penting, tidak bisa dibaca dengan mindset buku Percy Jackson yang amusing dan entertaining.
Untuk Kisah yang Sudah Lama Ada, Isu yang dibawa cukup
Kekinian
Saya baru menyadari bahwa Circe ini ditulis dengan tujuan
terselubung pada bagian tengah buku. Setelah ia mengalami pengalaman yang tidak
mengenakan dari berbagai tokoh, khususnya laki-laki, akhirnya sampai titik di
mana ia muntab. Pengalaman-pengalaman itu yang ternyata perlahan membentuk
Circe menjadi strong and independent
goddess. Men can fool her no more.
Saya menyadari sesungguhnya Circe merupakan bentuk
simbolisme perjuangan wanita melawan budaya patriarki yang ternyata terjadi
tidak hanya di kehidupan makhluk mortal macam kita saja. Kalau dipikir-pikir
lagi, meskipun sama-sama hidup selamanya dan practically tidak punya batasan akan apapun, kelakuan para dewa
sering membuat para dewi terkekang dan tidak diperlakukan secara adil.
Contohnya yang paling dasar, Hera sebagai dewi pernikahan
yang benci akan perselingkuhan, harus menghadapi kenyataan bahwa her own husband commited ones. Dan
sedihnya ia tidak bisa melakukan apapun karena suaminya adalah raja dari
seluruh penduduk Olympus. Hera memang mengutuk selingkuhan Zeus menjadi
berbagai jenis hewan dan makhluk lainnya, tetapi Hera tidak bisa berbuat
apa-apa terhadap Zeus. Jadi, di sini yang tersakiti ya cuma wanita saja.
Isu sosial seperti patriarki dan feminisme dituturkan melalui
mitologi dan kenyataannya memang nyambung banget. It’s all about power di dunia para dewa-dewi. Penulis menyindir kita
lewat buku ini karena di dunia kita pun juga begitu.
Circe yang abadi dan punya sihir harus melewati halang
rintang serta menghadapinya sendiri. Mindset
dewa-dewi ini adalah mereka tahu bahwa masing-masing mereka memiliki kekuatan
tersendiri, makanya mereka tidak bisa percaya pada banyak orang dan memilih
untuk rely on themselves and deal with it
alone. Hampir tidak ada ruang untuk empati. Kita bisa melihat itu dari
nasib Prometheus yang diceritakan di buku.
Namun, gods have it
easier than goddess karena mereka yang selalu ditunjuk untuk memerintah dan
berkuasa. Meskipun ibu dan saudari kandung Circe adalah tokoh yang saya benci, saya
sedih juga ketika menyadari bahwa ibunya menikah untuk mendapatkan power dari ayahnya, saudarinya menikah
untuk mendapatkan power dari
suaminya. Women are so powerless here,
bahkan dalam tingkat dewa-dewi.
Untung, Circe memilih rute yang berbeda dari mereka meskipun
lebih panjang dan menyakitkan. Setidaknya ia berjuang untuk mendapatkan akhir
yang menurutnya pantas ia dapatkan dan menunjukkan bahwa wanita dapat
menentukan nasibnya sendiri di bawah tekanan yang condong pada budaya
patriarki, sekuat apapun tekanan itu.
Rating:
4,5 Bintang untuk suguhan diksi yang indah, kisah mitologi
Yunani yang tidak sembarang orang bisa memasaknya menjadi menu yang berbeda,
dan sentilan mengenai status quo kaum wanita yang diwakilkan oleh Circe.
Update: saya punya printed book-nya yang beli setahun lalu
di periplus. Tapi karena terjadi banjir terparah sepanjang sejarah di hari
pertama 2020 dan banjirnya itu masuk rumah, bukunya kena banjir, rusak, dan
akhirnya dibuang. So sad:(

Komentar
Posting Komentar