Judul: The Great Shifting
Penulis: Rhenald Kasali
Genre: Nonfiksi, Bisnis
Tahun Terbit: 2018
Jumlah Halaman: 584
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Ketika platform berubah, kehidupan dan bisnis pun berpindah
Disrupsi
Sebelum memasuki pembahasan mengenai buku ini, ada satu term yang penting untuk diketahui
terlebih dahulu: Disrupsi. Jadi, Rhenald Kasali menulis buku ini sebagai salah
satu seri dari buku Disrupsi yang telah beliau terbitkan terlebih dahulu.
Walaupun belum sempet baca yang pendahulunya, kemungkinan buku tersebut
membahas penjelasan mengenai fenomena disrupsi lebih mendalam dibanding buku
ini yang lebih membahas contoh-contoh dari disrupsi.
Secara harfiah, disrupsi diartikan sebagai sesuatu yang tercabut dari
akarnya. (agak mengingatkan sama sebuah iklan obat jamur)
Jika diartikan dalam
kehidupan sehari-hari, disrupsi adalah sedang terjadinya perubahan yang
fundamental atau mendasar. Satu di antara yang membuat terjadi perubahan yang
mendasar adalah evolusi teknologi yang menyasar sebuah celah kehidupan manusia.
Digitalisasi adalah akibat dari evolusi teknologi (terutama informasi) yang
mengubah hampir semua tatanan kehidupan, termasuk tatanan dalam berusaha.
–sindonews.
Platform startup seperti gojek, kitabisa.com, tokopedia
adalah contoh-contoh dari fenomena disrupsi. Ambillah gojek, kita dulu perlu
keluar rumah untuk memanggil ojek. Kalau pengkolannya jauh, berarti harus jalan
kaki dulu. Sekarang, ojek yang akan mendatangi kita hanya dengan beberapa klik
dan dalam hitungan menit. Bisa dilihat bahwa terdapat pola lama yang telah
“dirusak” dengan keberadaan gojek dan masyarakat beramai-ramai menerapkan pola
yang baru. Perubahan yang masif ini menimbulkan dampak positif (kemudahan bagi
masyarakat) dan begitu pula dampak negatif (persaingan bagi ojek konvensional).
Nonfiksi yang Storytelling
Now, let’s get into the review. Buku ini adalah buku
nonfiksi kedua yang berhasil aku tamatkan (yang pertama The Art of not Giving a
F*ck). Ini menunjukkan kalau bagi seseorang yang bacaannya selalu fiksi, The
Great Shifting berhasil membuatku tertarik dan membaca (walaupun dengan progres
yang lambat bgt, sekitar 1 bulan kayaknya) sampai habis 500 halaman. Intinya, buku ini mudah
dicerna secara bahasa dan ngga menggunakan kata-kata yang ngejelimet.
Gaya penyampaian informasi yang menggunakan storytelling
juga memudahkan pembaca untuk membayangkan kondisi dan situasi yang sedang
dideskripsikan. Sebelum masuk ke pembahasan yang “seriusnya”, cerita seperti
sketsa singkat diselipkan di depannya dengan tokoh-tokoh yang kadang fiktif dan
kadang based on tokoh betulan. Ini mirip dengan buku The Art of not Giving a
F*ck dan artikel-artikel yang biasa ditulis orang luar negeri.
Bahkan buku
kuliah dan paper bahasa inggris banyak yang surprisingly kutemukan entertaining
padahal yang dibahas topik ilmiah. Sedangkan buku kuliah yang bahasa Indonesia
sulit dimengerti seakan penulisnya ingin menunjukkan kecerdasannya melalui
kekayaan linguistik yang tidak digunakan pada standar mahasiswa s1.
Pokoknya, buku ini tidak bikin bosan dan sakit kepala dengan
membacanya.
Antara Job dan Work
Ketika orang-orang membahas tentang bonus demografi dan
globalisasi, ada kekhawatiran yang muncul karena saingan kita bukan lagi pemain
dekat-dekat sini saja, tetapi juga WNA yang berasal dari berbagai negara. Tidak
berhenti di situ, generasiku juga ditakut-takuti kalau nanti lapangan pekerjaan
akan makin menipis seiring dengan kecanggihan teknologi yang terus berkembang.
Berawal dari mesin-mesin yang menggantikan buruh pabrik.
Internet yang melahirkan banyak freelancer. Hingga artificial intelligent yang
katanya bakal mengambil alih setengah pekerjaan manusia. Bayangkan kalau posisi
karyawan kantoran, asisten rumah tangga, dan dokter bedah akan digantikan oleh
robot-robot pintar. Selanjutnya bisa ketebak, manusia akan dijajah dan
diperbudak robot seperti salah satu film doraemon. (Aku yang ga punya
pengalaman kerja/magang/part time seupil ini pun langsung bikin list “ways to
make halal money” yang diisi sebanyak-banyaknya untuk jaga-jaga)
Aku rasa dosen-dosen sungguh menikmati ekspresi khawatir
kami saat menyampaikan kengerian ini. Kasian
anak-anak ini, susah-susah masuk PTN tapi kerjanya mungkin ga akan setimpal
dengan ilmu dan gelar yang diperjuangkan, untung saya udah jadi dosen dari dulu-dulu.
(Ngga lah ya ga kayak gitu... Ga tau sih.)
Namun, Rhenald Kasali yang seorang dosen juga dari fakultas
tetanggaku, menuliskan fakta yang berbeda di buku ini.
Persepsi mengenai pengambilalihan pekerjaan ini sedikit
keliru. Memang mungkin jika robot akan menggantikan pekerjaan manusia as in job, tetapi tidak dengan kerja (work). Manusia akan tetap bekerja.
Perubahan ini tentunya akan melahirkan pekerjaan baru. Misalnya yang dekat-dekat seperti perakit
robot, pengajar robot, atau robot whisperer untuk robot-robot yang rewel & eror. Tetapi kita ngga usah muluk-muluk memikirkan dominasi robot atas
manusia karena robot pekerja yang dipasarkan secara massal masih akan terjadi
beberapa generasi mendatang.
Aku juga yakin manusia pasti akan tetap selalu mencari sesuatu yang orisinil dan otentik sebagai nature-nya. Contohnya, walaupun makanan yang dimasak oleh koki
robot rasanya sempurna dan presisi, makanan buatan manusia akan lebih membekas
di hati.
Relevan
Satu kata yang dapat menggambarkan disrupsi dan The Great Shifting adalah relevant. Inilah yang mendasari seseorang untuk berani
membuat perubahan berskala besar. Kata ini pula yang mendorong seseorang untuk mencoba
terobosan yang benar-benar baru dan belum pernah ada sebelumnya. Bisa diibaratkan, seorang
inovator tidak akan masalah dianggap gila dengan produk buatannya karena ia tahu dengan pasti bahwa produknya relevan bagi banyak orang.
Relevansi memberikan arah ke mana dan kepada siapa suatu produk
akan berakhir. Apakah produknya memang relevan, siapakah yang merasa relevan dengan
produk tersebut, kapankah produk tersebut relevan untuk diluncurkan, dll. Dari pertanyaan-pertanyaan
ini akan terbentuk blue print yang dapat membantu proses pengembangan produk.
Sebagai mahasiswa komunikasi dengan peminatan periklanan, aku
mendapatkan ilmu-ilmu tentang produk, iklan, pasar yang mana semuanya sangat
berkaitan dengan menjadi relevan. Aku ingat betul saat mengambil kelas
pemikiran kreatif, dosen kami selalu tidak pernah tidak menanyakan “Apakah kamu
yakin produk ini sudah relevan? Apakah ada yang mau pake?” ke setiap kelompok
yang mempresentasikan produknya.
Masalah yang aku pelajari dari pengalaman tersebut adalah being
relevant itu butuh kejelian, dan beberapa orang memiliki kemampuan tersebut
lebih baik dari yang lain. Hal itu tidak diperoleh hanya dari belajar di
kelas. Tetapi juga dari berjam-jam observasi, mendengarkan keluh kesah orang-orang,
dan melalui kegagalan. Tidak berhenti di situ, menjadi jeli dan mendapatkan
ide hanyalah baru langkah pertamanya saja. Untuk bisa mewujudkannya, diperlukan usaha yang relevan lainnya karena di tahap-tahap berikutnya akan
ada lebih banyak batasan-batasan baru.
Rating-ku
4,5 bintang untuk penuturan yang ga kaku, contoh-contoh
kasus yang jumlahnya banyak dan menarik dan yang mana aku baru tau, serta penjabaran yang cukup
mendetail. Aku merekomendasikan buku ini untuk semua orang yang ingin lebih memahami fenomena kemunculan berbagai perusahaan startup dan orang yang ingin mulai baca buku nonfiksi tapi ga yakin harus mulai dari mana.

Komentar
Posting Komentar