Judul: The Flatshare
Penulis: Beth O’Leary
Genre: Romance, Contemporary
Tahun Terbit: 2019
Jumlah Halaman: 400 halaman
Penerbit: Quercus
Tiffy and Leon share a flat
Tiffy and Leon share a bed
Tiffy and Leon have never met…
(Goodreads)
Look at that premise! Kita mungkin sudah bisa menerka-nerka
arah ceritanya mau ke mana dari membaca baris pertamanya saja. Banyak cerita
romance yang mengangkat tema serupa, awalnya berbagi kamar dan kemudian fell in
love in the process. Tapi, pas baca baris ketiga, BAAM! Di sinilah daya tarik
utama dari buku ini. Kedua tokoh utama yang secara default mestinya jatuh cinta
ini belum pernah ketemu!
Kalau melihat dari novel dengan premis yang sama, kebanyakan
sepasang penghuninya membuat perjanjian kontrak dll dan jatuh cinta seiring
waktu karena melakukan observasi terhadap satu sama lain. Seperti, “hey, aku
baru sadar ternyata A memiliki tubuh yang lumayan oke” atau “Aku tidak tahu B
bisa mendengkur dengan merdu, menarik”. Semuanya memiliki formula jatuh cinta
karena faktor proximity. Dekat secara fisik, selalu berada dalam radar satu
sama lain.
Lalu, gimana dong mereka bisa jatuh cinta? Kalau ingin tahu
dan kamu tipe orang yang lebih suka cari tahu sendiri, silakan skip this and
just read the book because..
!!SPOILER AHEAD!!
Kind of.
PDKT
Oke, untuk yang masih lanjut membaca (thanks!), mereka
ngobrol lewat… post-it. Heh? Terdengar cheesy, tetapi setelah membaca bukunya
semua terasa masuk akal dan natural saja kok, I swear. Aku pribadi bisa relate
dengan post-it karena di kampus sudah menjadi budaya untuk mengapresiasi teman
atau orang-orang terdekat kita melalui pesan post-it yang ditempel di camilan.
Isinya kurang lebih: “Congrats beb!! Akhirnya selesai juga ya kepanitiannya!”
atau sesimpel (dan ini beneran ada, temenku yang dapet) “~THANK YOU B*TCH~”
Kembali ke buku, menarik banget untuk mengikuti hubungan
mereka yang dimulai dengan cara yang tidak biasa. Biasanya di cerita yang umum,
kita dibuat geregetan sekaligus excited menunggu kapan kedua tokoh mau confess
ke satu sama lain ketika the attraction between the two is so palpable.
Perasaan itu dikali dua saat baca buku ini karena bukan hanya nunggu kapan
mereka bakal confess, tetapi juga nunggu kapan mereka bakal ketemu in person.
Lewat post-it aja mereka udah menunjukkan chemistry positif, gimana kalo ketemu
beneran kan? What a slow burn. And i loved every bit of it.
Mereka saling menulis pesan yang bermulai dari hal-hal
simpel kayak: “Hei aku ngambil ini dari kulkasmu, semoga kamu tidak keberatan”
“Iya, tidak masalah kok” sampai melebar ke hal-hal ga penting namun sarat akan
hal-hal yang membuat mereka jadi kenal kepribadian satu sama lain kayak: “Aku
sudah putus dari pacarku tapi rasanya aku susah melupakannya apalagi dia
kemarin memberiku “the look”. Ini sangat rumit, ngga tahu harus gimana. Hei
kenapa aku jadi cerita sama kamu”.
Tokoh Utama
Setelah nulis panjang lebar dan nyebut tokoh-tokohnya dengan
“mereka”, baru sadar kalo belum nyebut nama sama sekali when actually they have
ones. Silly me. Jadi sekarang kita bahas sedikit tentang tokoh utama di buku
ini. Kedua tokoh utamanya adalah Tiffy dan Leon.
Tiffy digambarkan sebagai perempuan yang tingginya di atas
rata-rata umumnya perempuan, suka ngobrol, terlalu dependant dengan
sahabat-sahabatnya bahkan untuk masalah pribadi, jujur dan sangat blunt, serta
cenderung impulsif. Oh iya, Tiffy yang bekerja sebagai editor buku-buku DIY
(kerajinan tangan crochet contohnya) memiliki selera yang unik. Ia suka hal-hal
yang warna-warni dan tentunya DIY. Ini adalah salah satu faktor pendorong Tiffy
bisa berkomunikasi dengan Leon. Mereka punya selera yang berbeda total dan masalahnya,
mereka juga berbagi flat. Leon selalu menyingkirkan selimut celup-ikat Tiffy
setiap gilirannya menempati flat.
Sekarang mari kita bahas Leon. Leon adalah cowok yang tidak
bisa membuka diri terhadap sembarang orang (tapi ga ansos juga sih), lebih suka
kehidupan berjalan stagnan dan sama, ngga peka (atau lebih seperti men-dodge
kenyataan), pokoknya kebalikannya Tiffy banget. Dia bekerja sebagai perawat di
tempat perawatan paliatif (re: spesialisasi asuhan medis bagi orang yang hidup
dengan penyakit serius serta keluarga mereka –google). Pekerjaannya ini
membuktikan kalau Leon seorang yang hardworking, fokus, sekaligus perhatian
terhadap sekitarnya. Dan Leon secara fisik bukan orang kulit putih seperti
Tiffy, tetapi kayaknya coklat?
“His face is fine-boned and his eyes are deep brown, a few
tones darker than his skin”.
Gemes banget ngebayangin mereka berdua! Kita dapet pasangan
yang diverse baik secara fisik maupun personality. Uwuuu. Kalau
dihitung-hitung, tidak banyak buku dengan genre serupa yang memiliki pasangan
seperti mereka. Atau mungkin aku yang kurang banyak mengeksplor. Atau mungkin
ada, tapi ceritanya tidak berkesan jadinya aku lupa. Hehe.
Isu yang Dibawa
Buku ini mengangkat isu gaslighting yang sepertinya hangat
dibahas orang-orang baru-baru ini? Soalnya beberapa hari setelah baca, I
stumbled upon an article on my Line timeline. I was like “Hey! I already know
about this! Thanks to the flatshare ofc.” I feel proud.
Untuk yang belum tahu, gaslighting adalah memanipulasi
seseorang secara psikologis yang membuat korbannya mempertanyakan kewarasannya
-google. Hal ini termasuk ke dalam kekerasan psikologis. Agak sulit dibayangkan
seperti apa bentuknya jika hanya melihat dari pengertiannya saja. Juga
manipulasi yang seperti apa yang merupakan gaslighting dan mana yang bukan.
Yang pasti, gaslighting dilakukan secara halus dan berulang sampai memberikan
pengaruh pada korbannya.
The flatshare membawa isu ini di sepanjang ceritanya dengan
arah yang jelas sehingga bukan sekadar lewat saja. Buku ini memberi contoh
melalui tokohnya bagaimana gaslighting dilakukan, motivasi pelaku, dampak bagi
korban, kenapa korban bisa terperangkap dalam gaslighting (jujur aja, aku kzl
banget kenapa dia mau aja diperdaya tapi ya itu beneran ada) (jangan sampai
kita ngerasain deh aamiin), dan cara untuk menyelamatkan psikologis korban.
Lalu, kalau di buku sendiri digambarkan kayak apa? Penasaran
kan? Silakan baca selengkapnya di The Flatshare hohoho.
Rating-ku
5 bintang untuk cerita yang menarik, tokoh yang unik, humor
yang asik, deskripsi yang pas & tidak bertele-tele, serta cover yang gemes
banget. You should check this other cover version!
![]() |
| Sumber: Goodreads |


Komentar
Posting Komentar